Archive for December, 2004
Thursday, December 30th, 2004
Awalnya pemeriksaan ketiga untuk kandungan istri akan dilakukan pada hari senin kemarin, namun gagal dikarenakan listrik di tempat praktek dokter tersebut padam. Padamnya listrik ini sedikit membuat kaget karena di rumah saya yang bersebelahan dengan tempat praktek tersebut tidak mengalami padam listrik. Akhirnya dengan agak kecewa, terutama istri yang sudah ingin sekali melihat si jabang bayi, kami pulang lagi dan berencana datang kembali pada hari rabunya. Istri agak khawatir karena pada hari rabu dokter budi praktek sore hari dan bukan malam.
Namun hari ini, setelah istri melewati perjuangan berat menempuh kemacetan jakarta dan bogor, akhirnya berhasil juga melakukan pemeriksaan… sebagai pasien terakhir. Seperti biasa, tekanan darah dan kondisi istri agak menurun dikarenakan perjalanan tersebut. Setelah menunggu tidak lama, menurut susternya bila kami tidak terlambat 5 menit saja si dokter pasti sudah pulang, istri pun mendapat giliran diperiksa. Istri menyampaikan keluhan-keluhannya terutama mengenai seringnya beliau muntah-muntah. Dan ketika saat di USG.. Masya Allah.. si kecil sudah memiliki tangan dan kaki. Dia sepertinya sudah mulai senang bermain-main dengan mendorong-dorong… duing..duing. Mata sepertinya sudah berair karena terharunya. Istri yang memang sudah kangen ingin melihat lagi si kecil terlihat lebih terharu lagi. Masya Allah, benar-benar besar karunia-Nya… si kecil yang panjangnya baru 7.7cm sudah terlihat hidup dan aktif. Bahkan menurut dokter sudah ada jantungnya….
Dan ehem… waktu pembayaran biaya periksa tetap merupakan saat yang paling mendebarkan. Bersyukur istri baru mendapat cicilan awal gaji, jadi saat pembayaran bisa dilewati dengan tenang. Hiks.. kali ini yang bikin pusing obatnya, karena lebih banyak dari biasanya. Saat menebus ke apotik saya hanya berbekal 100.100 rupiah. Berpikir bila harga obatnya lebih mahal dari itu ya.. nebusnya setengah dulu dech. Ternyata oleh tukang obat saya hanya ditagih 86.100 rupiah … wah dengan gembira hati saya tebus semuanya dan pulang dengan menenteng bungkusan obat.
Posted in Personal | No Comments »
Thursday, December 16th, 2004
Adventures
Ah memang sungguh nyaman bila ke daerah. Tiada itu macet-macet yang menghadang di jalanan dan membuat kita harus bangun pagi untuk menghindarinya. Tiada rebutan kendaraan.. uhmm.. mungkin ada kali ya, tapi saya seh tiada merasakan itu. Dengan menumpak pada mobil hotel, jarak tempuh yang cukup jauh antara kota Makassar dan bandara dapat ditempuh hanya dalam waktu kurang dari 45 menit. Setelah mengurus tiket perjalanan DAS (Dirgantara Air Service) ke Selayar, saat check-in kami ditanyakan berat badan masing-masing. Mungkin mereka khawatir pesawatnya tidak dapat mengudara bila kami terlalu berat, ya karena untuk tujuan Selayar yang ada hanyalah pesawat tipe perintis. Dan beruntunglah saya karena semenjak lebaran kemarin pesawat yang digunakan adalah pesawat berpenumpang 21 orang. Tahun lalu mereka masih menggunakan pesawat berpenumpang 8 orang. Ini adalah pesawat terkecil yang pernah saya gunakan. Rekor pesawat terkecil sebelumnya adalah pesawat Hercules ketika berkunjung ke Ketapang di Kalimantan Barat pada tahun 1986.
Sudah pasti untuk pesawat tipe tipe CS212 ini saya dapat melihat kegiatan para sopir pesawat tersebut. Hiks… salah satunya bahkan menempelkan foto wanita di topinya. Penerbangan tidak ber-AC dan berisik ini berlangsung selama 30 menit. Saya sempat melihat seorang penumpang bahkan membawa penutup kuping untuk mengurangi kebisingan pesawat. Saya sendiri karena lelahnya tertidur dan tiada terpengaruh sedikitpun oleh suara berisik tersebut… memang pelor.
Pendaratan di Bandara Haji Aroepalla Selayar, yang boleh saya katakan lebih tepatnya lapangan parkir yang luas.. hehe, berlangsung lebih mulus bila dibandingkan pendaratan Merpati sehari sebelumnya. Panitia penyambutan sudah menunggu kami dan membawa kami ke hotel. Sepanjang jalan saya hanya melihat jalanan yang sudah mulai rusak aspalnya dan kondisi sekitar yang masih alami.. yah maklumlah, namanya juga daerah. Kurang lebih 20 menit perjalanan kami sampai di hotel atau lebih tepatnya Mess di kompleks Mesjid Agung Selayar. Menurut informasi, lokasi ini adalah tempat menginap paling bersih dan paling baik di Selayar. Alhamdulillah, mess ini sudah dilengkapi AC… fiuh dan lebih baik daripada hotel tempat saya menginap di Solok.
Food.. oh.. food
Makanan adalah kebutuhan untuk hidup dan sialnya saya sudah terbiasa dengan makanan yang penuh bumbu nan pedas. Sehingga saat lapar dan makan di Selayar ini saya mengalami kesulitan yang benar-benar membuat kepala pusing… makanannya tidak membuat saya berselera untuk makan. Makan siang hari pertama setelah mendarat adalah ikan bakar, cukup menyenangkan namun tiada jauh dengan Makassar bumbunya tidak berasa alias hambar. Dan sebagai peneman makan, kami juga disuguhi sop.. entah apa nama sop ini. Didorong faktor lapar, ikan bakar tersebut habis dengan menambah setengah ton garam dan merica kali yah.. haha.
Malamnya kami sepakat untuk mencoba makanan yang dinamai Mie Titi yang menurut salah satu rekan di Selayar merupakan favorit beliau. Di Selayar ini hanya satu penjual Mie Titi, yaitu Rumah Makan Surya. Setelah menunggu cukup lama akhirnya muncullah hidangan tersebut. Saya sempat tertegun melihat penampilan mie ini. Tampak seperti mie dan cap-cay yang dibanjur dengan air bubur. Dan saat mencoba.. kruk.. aduh .. ini Anak Mas di cap-cay kan kali yah. Mie-nya betul-betul kering. Saya langsung tiada bernafsu meneruskan makan. Namun faktor cacing berdemonstrasi di perut memaksa saya untuk melahap sayuran dan lauk kecuali mie-nya dan tentu tiada lupa pula menambah beberapa bumbu untuk menghilangkan rasa hambar.
Ketika mencoba masakan padang, hati ini kecewa sekali saat tahu tiada sambal hijaunya. Dan ya.. sepertinya masakan padangnya pun sudah disesuaikan dengan lidah Selayar karena bumbu-nya… lagi-lagi kurang rasa. Namun di restoran padang itu saya lebih senang memakan udang cabainya. Hmm.. eniwei, sepertinya tiada sayuran yah di Selayar ini.
Dengan harap-harap cemas saya mencoba masakan Jawa di alun-alun Selayar dekat dengan dermaga kapal penumpang. Saya mencoba memesan ayam goreng… dan hiks kok dikasi sop lagi yak. Akhirnya saya mencoba makanan khas Indonesia nan universal… Nasi Goreng.. dibungkus bang satu. Dan saat saya buka nasi goreng itu di hotel.. oalaa.. ini nasi merah sekali. Dicampur darah kali ya. Sempat bingung saat hendak memakannya, namun ternyata rasanya cukup lumayan, atau mungkin karena faktor perut kali yah.. sepertinya seh faktor perut.
Sigh… saya bisa kurus nih disini
(Donie-Selayar. Foto using K500CameraPhone)
Posted in Indonesia | 3 Comments »
Monday, December 13th, 2004
Transit
Perjalanan kali ini adalah menuju Kabupaten Selayar yang berada di Propinsi Sulawesi Selatan. Namun untuk mencapai Selayar, kami harus menggunakan penerbangan lanjutan dan satu-satunya dari Makassar yang ada setiap pagi jam 8 wita . Kondisi ini menyebabkan saya harus melakukan transit 1 malam di Makassar, ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Bagiku ini sudah cukup menarik karena terakhir kali saya sempat berkeliling kota ini adalah di tahun 1999, saat mengikuti proyek pengembangan sistem informasi Baseline Economics Surverys bersama Bank Indonesia dan IPB. Memang November kemarin saya juga sempat ke Sinjai, sekitar 4 jam perjalanan dari Makassar, namun ketika itu tidak ada kesempatan untuk berkeliling kota.
Pemberangkatan Jakarta-Makassar dilakukan dengan menumpang pesawat Merpati dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam, yang sudah dimulai dengan keterlambatan penerbangan (delayed) hingga 30 menit karena pesawat telat datang dari Surabaya. Kecurigaan akan kemungkinan pilot amatir semakin membesar manakala saya dan rekan beberapa kali mengalami ketidaknyamanan pada telinga alias bindeng. Ditambah pula beberapa kali pesawat menembus angin kosong menyebabkan saya tidak dapat sepenuhnya menikmati penerbangan ini. Sungguh saya kecewa dengan kualitas Merpati yang seharusnya lebih baik dari saudara mudanya yang baru saja terkena musibah, Lion Air.
Di bandara Hassanuddin lagi-lagi saya dibuat pusing dengan tidak adanya informasi dimana bagasi dari Merpati akan diturunkan. Monitor yang berada di atas ban berjalan tempat bagasi tidak ada satupun yang menunjukkan mana ban yang memuat bagasi dari Merpati. Mereka semua hanya menampilkan satu kata… "Hassanuddin". Huh sungguh mengesalkan.
Setelah puas bermain dengan bagasi, saya menuju hotel di kota Makassar dengan dengan menumpang taksi bandara. Taksi-taksi ini telah memiliki tarif standard antara 40rb hingga 50rb sesuai dengan tujuan. Jalanan lancar dan lengang kita lalui, untuk ukuran saya, termasuk tol Bosowa yang milik saudara dari Jusuf Kalla.
Pada awalnya saya bermaksud menginap di hotel Celebes, namun karena sesuatu hal ( baca harga ) akhirnya saya menginap di hotel Angin Mamiri yang kebetulan terletak di dekat Pantai Losari. Hotelnya tergolong bersih dengan rate yang cukup masuk kantong. Petugasnya sendiri berusaha meyakinkan saya bahwa rate yang diberikan olehnya adalah rate diskon dari harga published rate. Hal tersebut semakin dibuktikan takkala saya melihat sendiri brosur hotel tersebut di dalam kamar.
Target lanjutan malam ini adalah mengisi perut. Tentu saja saya memilih mencari makanan laut, dan berdasarkan informasi Warung Lae-Lae adalah solusi murah dan enak untuk makanan laut. Kebetulan pula warung tersebut berada pada posisi yang tiada jauh dari hotel. Dengan bergaya sok tau saya mencoba hunting warung itu sendiri, dan memang hasilnya jelas.. nyasar. Setelah berputar satu blok akhirnya saya menyerah dan menggunakan jasa becak. Dan ternyata warung tersebut memang tiada jauh dari hotel, saya hanya salah ambil belokan saat hunting tadi. Warungnya sangat ramai dan mungkin lebih tepat disebut restoran daripada warung, dan sialnya karena saya datang terlalu malam saya hanya kebagian makanan laut sisa. Bayangkan, cumi dan lobster kesayangan sudah habis. Sialnya saat pesanan ikan saya datang ternyata bumbu yang disediakan tiada sesuai dengan lidah saya.. aduh.. tawarnya mak. (Donie-Makassar. Foto using K500CameraPhone)
Posted in Indonesia | No Comments »
Monday, December 13th, 2004
Lapangan Parkir Kontroversial
Beberapa waktu yang lalu saya sempat memperhatikan bahwa lapangan parkir bus pariwisata kebun raya ini sudah memulai aktifitasnya. Saya sering mengeluh karena walaupun telah dibangun lapangan parkir ini, para bus pariwisata yang berkunjung ke kebun raya masih tetap saja memejeng diri di seputar jalan yang mengeliling kebun raya dan notabene mempertinggi tingkat kemacetan Bogor yang sudah sangat macet dan katanya akan terus macet hingga kiamat (mengutip komentar salah satu walikota bogor di Kompas)
Lapangan parkir yang menempati lahan eks-IPB di sebelah Gedung Alumni IPB dan di depan Masjid Alumni IPB ini memang sempat tidak digunakan selama beberapa lama sejak selesainya bangunan fisik serta bangunan pendukungnya, seperti terowongan penyeberangan di depan kampus IPB Barangsiang. Terowongan penyeberangan tersebut bahkan sempat menuai protes karena, menurut salah satu koran daerah Bogor yang saya baca, setelah dibuka sempat digunakan oleh para oknum-oknum untuk melakukan kegiatan-kegiatan aneh mereka, entah apa karena saya belum pernah menggunakan terowongan tersebut.
Lapangan parkir kontroversial di atas lahan bekas Ruang Kuliah P11 dan menyebabkan IPB mendapat julukan baru yaitu Institut Perparkiran Bogor, merupakan bagian dari pengembangan kontroversial IPB Baranangsiang yang menuai protes dari berbagai elemen IPB. Saya sendiri sebagai salah satu alumni IPB sangat menyayangkan pengorbanan aset-aset IPB ini. Seringkali saat berdiskusi dengan istri, yang kebetulan adalah salah satu alumni IPB juga, bila seandainya Pak Andi Hakim Nasution masih hidup beliau pasti tidak akan pernah mengijinkan hal seperti ini terjadi. Namun jaman memang telah berubah, bahkan saat ini pekerjaan atas proyek ketiga yang menggunakan lahan IPB yaitu proyek Bogor Agricultural Center (BAC) telah dimulai. BAC dikhawatirkan akan 'disengajakan salah urus' sehingga berujung menjadil supermal seperti Plaza Ekalokasari, yang menurut gosip pada awalnya direncanakan untuk keperluan promosi Agriculture namun berakhir dengan tidak ada satupun yang berhubungan dengan pertanian. BAC bila diintip pada pagarnya tertulis akan tersedia Convention Center, Science Center dan … uhum hypermarket. Saya jadi ingin melihat, berapa lama dan seberapa besarkah Science Center di BAC itu nantinya. Dan berapa lama BAC akan berada pada khitahnya sebelum berubah menjadi pusat bisnis komersial seperti Plaza Ekalokasari.
Damri Relokasi
Sekitar awal desember kemarin, saat saya hendak berangkat ke kantor dengan menggunakan jasa angkutan umum bis, tiba-tiba saya melihat tanda plang besar bertuliskan "Angkutan Khusus Bandara Soekarno-Hatta" di depan lapangan parkir bus pariwisata. Selidik punya selidik ternyata Damri, si angkutan khusus tersebut, telah pindah ke lapangan parkir bus pariwisata. Sejak kapan ya Damri menjadi penghuni tetap lapangan parkir bus pariwisata khusus pengunjung kebun raya tersebut. Dan sungguh lucu namun ironi bila kita kembali mengingat bahwa lapangan parkir itu adalah khusus untuk bus pengunjung kebun raya bogor.
Saya adalah pengguna setia Damri bilamana saya harus bepergian seorang diri ke bandara. Angkutan ini sangat murah dibandingkan dengan alternatif angkutan bandara lainnya. Coba bandingkanlah ongkos yang harus anda rogoh bila menggunakan Taksi atau mobil pribadi dari Bogor, mungkin anda memerlukan minimal 75ribu. Sedangkan dengan Damri anda cukup mengeluarkan 14ribu rupiah dan anda akan dapat duduk manis di bis yang membawa anda dengan aman ke bandara. Sungguh saya tiada promosi tentang Damri, ini adalah fakta dan kenyataan yang saya jalani.
Hari ini saya akhirnya berkesempatan mencoba Lapangan Parkir Pariwisiata IPB ini karena saya akan melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten Selayar di Sulawesi. Saat memasuki lapangan parkir, saya langsung terkesan dengan kebersihannya, sangat berbeda dengan Terminal Bis Baranangsiang yang berada tidak jauh dari lahan parkir ini. Pasti karena masih baru dan belum ramai digunakan. Beberapa lampu taman tampak menghiasi lapangan parkir ini. Di pojok-pojok lapangan parkir ini tersedia tempat berteduh apik lengkap dengan tempat duduknya. Damri counter menempati posisi paling pojok. Saya sudah suudzon dan memperkirakan bahwa hanya menunggu waktu sebelum tempat berteduh ini dipenuhi oleh pedagang kaki lima dan penjaja oleh-oleh khas Bogor. After all… ini lapangan parkir pariwisata yang pasti akan dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan lokal dan mancanegara.
Dan tampaknya Pemda Bogor tidak setengah-setengah dalam membangun lapangan parkir ini, karena pada saat pemberangkatan, bus yang saya tumpangi ternyata tidak menggunakan jalan biasa yang melewati terminal baranangsiang untuk memasuki jalan tol namun melewati jalan tembus baru yang memotong cidangiang dan langsung muncul di jalan tol. Sungguh ide yang menarik untuk mengurangi beban kemacetan terminal baranang siang.
Pada akhirnya saya mungkin harus mengakui bahwa bila lapangan parkir ini telah digunakan secara efisien dan tetap terjaga ketertiban, kebersihan dan keamanannya maka saya akan melupakan bahwa lapangan ini menggunakan Ruang Kuliah P11 tempat saya menimba ilmu di IPB 10 tahun yang lalu. Benefit yang diberikan lapangan itu saat ini dan semoga nantinya akan lebih tinggi daripada hanya sekedar nostalgia memori 10 tahun lalu. Semoga niat dan pelaksanaannya di masa datang akan tetap sesuai khitahnya. (Donie-Makassar. Foto using K500CameraPhone)
Posted in Social | 4 Comments »