Rumah Idaman

Semenjak kehadiran Audina, bahkan saat masih dalam kandungan-pun, saya dan istri sudah berulang kali membahas kemungkinan pembelian rumah. Ya, memang kami saat ini masih menumpang di Pondok Mertua Indah. Keinginan ini semakin menguat manakala Audin semakin sering terganggu tidurnya oleh saudara-saudara-nya.
Namun tentu saja membeli rumah itu tidak semudah membeli kacang goreng, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Hanya saja saya berkeinginan untuk membeli dalam rumah dalam lingkungan kompleks perumahan yang menerapkan sistem cluster. Hal ini disebabkan ritme pekerjaan saya yang menuntut saya pulang malam sehingga akan lebih nyaman bila istri dan anak saya ditinggal dalam suatu lokasi yang saya anggap aman.
Tapi tentu saja, harga rumah di kompleks perumahan lebih mahal daripada di luar kompleks. Dengan melihat kondisi keuangan saat ini, untuk memiliki rumah yang “humanize” yaitu rumah yang minimal memiliki luas tanah 150M2 di kompleks maka saya membutuhkan uang muka yang tidak sedikit. Belum lagi benturan aturan kepemilikan NPWP.. duh. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekali anda memiliki NPWP maka selamanya anda akan terus dikejar-kejar oleh petugas pajak. Maklum, sudah keenakan dibayarkan pajak-nya oleh kantor. Dan belum lagi kadang-kadang ada masa dimana saya jadi pengacara alias pengangguran tidak punya acara 😀
Ahh.. memang susah hidup di Indonesia ini, tapi inilah seni dalam hidup…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *