a words from my life as information technology people

Archive for October, 2006

Jakarta Sepi

Thursday, October 26th, 2006

Berhubung saya hari ini harus masuk kantor, jadi akhirnya saya merasakan Jakarta takkala ditinggalkan oleh sebagian besar penghuninya. Kereta listrik ekonomi yang saya tumpangi dari Bogor kosong dan sangat nyaman. Bahkan saya bisa memilih-milih lokasi tempat duduk. Sangat berbeda jauh dengan hari-hari biasa yang harus rebutan dan bahkan kadangkala tidak berhasil memperoleh tempat duduk. Kereta baru mulai penuh setelah lewat dari di stasiun Citayam, itupun tidak sepadat biasanya. Dan kebanyakan pengguna kereta adalah orang-orang yang hendak berwisata.
Sampai di Jakarta… walah perasaan seperti kota di luar jawa. Sepi. Kendaraan melaju dengan kecepatan agak tinggi dan itupun jarang. Tidak terdengar bunyi klakson ataupun lainnya. Sungguh sangat nyaman sekali. Seandainya setiap hari seperti ini… hehehe.
Yah.. Ibu Kota Jakarta yang biasanya lelah menampung penduduknya akhirnya bisa istirahat selama seminggu ini.

Selamat Idul Fitri 1427H

Tuesday, October 24th, 2006

Buat anda semuanya, saya dan kelurga mengucapkan Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1427H. Mohon Maaf lahir dan Batin. Semoga kita semua memperoleh kemenangan.

Selamat Tinggal Xbox

Friday, October 6th, 2006

Hari ini secara tiba-tiba saya memutuskan untuk menjual Xbox saya yang telah lama terbengkalai tidak terpakai. Entah dapat ide dari mana namun akhirnya memberanikan diri untuk meng-iklan-kan Xbox tersebut di milis. Dan benar saja, lima belas menit kemudian Xbox tersebut laku atau setidaknya sudah terpesan. Transaksinya sendiri akan dilakukan pada hari kamis minggu depan.
So.. selamat tinggal Xbox. Terima kasih atas “hours of enjoyment” yang sudah kamu berikan padaku.

Daging Sapi Campur Celeng di Bogor

Friday, October 6th, 2006

Dua hari lalu saat menonton berita di sore hari saya dikejutkan dengan berita adanya daging celeng yang di campur dengan daging sapi di pasar tradisional. Yang lebih mengagetkan lagi ternyata hal itu terjadi di Pasar Merdeka Bogor… yang setiap hari saya lewati saat menuju Stasiun Bogor. Terungkapnya peristiwa peng-oplosan (pencampuran) tersebut secara tidak sengaja oleh Dinas Kesehatan Bogor yang tengah melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke pasar tersebut. Menurut seorang pejabat yang diwawancari sebenarnya sangat mudah untuk membedakan antara daging celeng dan daging sapi yaitu daging celeng warnanya lebih kusam. Namun apabila dicampur dengan daging sapi asli dan transaksi dilakukan dalam penerangan seadanya (sebagai informasi, Pasar Merdeka Bogor merupakan salah satu pasar yang biasanya ramai di dini hari antara jam 3-6 pagi) maka dijamin akan sukar membedakannya.

Sungguh saya tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh para pelaku tersebut. Keuntungan sesaat? Bukankah dengan melakukannya dan bila terbongkar maka para pembeli dan konsumen menjadi tidak percaya terhadap kredibilitas pasar tradisional. Padahal saat ini pasar tradisional semakin tergerus dan semakin terpinggirkan oleh pasar-pasar modern dan raksasa. Fenomena ini saya lihat langsung takkala hendak membeli beberapa barang kebutuhan anak di salah satu supermarket modern di daerah Jembatan Merah Bogor. Antrian konsumen yang hendak membayar sudah mengular… panjang. Dan ditengah-tengah antrian tersebut beberapa konsumen berbisik-bisik membahas harga daging sapi yang terus melambung di pasar tradisional seiring dengan berjalannya bulan suci Ramadhan. Lalu, apakah hal ini pantas dijadikan alasan untuk mencampur daging celeng ke daging sapi hingga harganya kembali murah? Jelas TIDAK. Lalu apakah mungkin pasar modern juga tidak melakukan tindakan yang sama seperti pasar tradisional? Bisa saja, namun biasanya pasar modern tidak hanya menjual satu barang tapi bisa ribuan sehingga pengoplosan di satu barang yang mungkin hanya menguntungkan sedikit akan mengakibatkan ditutupnya pasar modern itu keseluruhan dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit… nekad bila si pengusaha tetap melakukannya.

Bila konsumen mulai beralih dari pasar tradisional ke pasar modern maka siapakah yang patut disalahkan? Pemerintah? Pedagang Pasar? Distributor? Tidak bisa begitu saja mencari kambing hitam. Sementara para oknum seperti pengoplos hanyalah salah satu alasan yang mempercepat konsumen beralih.
Mari kita tanyakan kepada diri sendiri… lebih senang berbelanja dimana?

Pagi Hari di Halte Busway Harmoni

Monday, October 2nd, 2006

Hari ini saya berangkat ke Jakarta beserta istri. Kebetulan hari ini istri mendapatkan kesempatan interview di daerah Bendungan Hilir (BenHil) Jakarta. Jalur ternyaman yang kami pilih akhirnya adalah menggunakan Kereta Bogor Express (Pakuan) dan turun di Stasiun Gambir yang dilanjutkan dengan menggunakan busway. Dan ternyata itu adalah pilihan yang salah :(
Kereta Bogor Express tidak mengalami masalah yang berarti dan sampai di Stasiun Gambir tepat waktu. Kami langsung bergegas menuju halte busway Gambir yang kosong. Bus biru pertama sudah penuh hingga kami tidak dapat masuk. Kami baru dapat naik di bus berikutnya. Padat sekali sampai-sampai saya dan istri tidak memperoleh pegangan tangan yang layak… sigh
Karena kami menggunakan busway koridor II (atau III ya???), maka untuk pindah ke koridor satu yaitu busway jurusan kota-blok m kami harus turun di halte Harmoni. Dan saat kami turun di halte harmoni kami benar-benar di buat kaget. Terlihat antrian panjang penumpang yang hendak menuju PuloGadung dan… ternyata antrian lebih panjang ada di penumpang yang menuju ke Blok M atau merupakan busway yang hendak kami naiki. Antrian berlapis yang hanya berkurang 1-2 baris setiap kali ada bus yang datang. Apalagi ditambah jarangnya bus yang datang. Panik.. akhirnya saya dan istri memutuskan untuk keluar dan menggunakan Taksi.
Walah… ternyata menggunakan busway di pagi hari itu merupakan pilihan yang kurang bijaksana….