Category Archives: Malaysia

Walah, Air Kemana Nih?

Full Kitchen Sink
Aduh, belum seminggu disini kami sudah menghadapi krisis air. Tanpa sebab musabab yang jelas (atau karena kita tidak tahu), kemarin air di tempat cuci dapur tidak keluar sama sekali sejak pagi hari. Yang bikin bingung adalah air tetap keluar dari kamar mandi sehingga kami masih bisa mandi dengan normal … gak bau lah 😀
Pada awalnya saya mengira bahwa keran di dapur yang rusak, namun saat keluar dan melihat bahwa air dari keran di halaman depan juga tidak keluar sayapun diberi tahu tetangga bahwa air memang sedang ada masalah dan mungkin paling lambat besok baru mengalir lagi.
Namun saat siang hari air di dapur sudah mengalir kembali seperti biasa… deras dan normal.

We’re Moving Abroad

Menunggu Di Bandara
Selesai acara selamatan kami segera bergegas ke Bandara Udara Soekarno-Hatta di Tangerang. Ditemani hujan deras sejak di Tol Jagorawi yang seolah-olah ikut sedih karena akan ditinggal keluarga kecil Isnandi.
read more »

Syukuran dan Selamatan Pindahan di Ciomas Grande Bogor

Rumah Ciomas Grande
Hari Sabtu tanggal 5 April 2008 kemarin akhirnya kami melaksanakan acara Selamatan. Acara gabungan antara selamatan dan syukuran jadinya rumah kami di Ciomas Grande Bogor serta pindahnya kami sekeluarga ke Malaysia. Sebelum acara dimulai, pagi hari saya menyempatkan diri untuk menengok rumah kami itu. Cukup puas melihat hasilnya. Sangat berbeda sekali dengan rumah kami sebelumnya di Pesona Cilebut. Seandainya kami tidak pindah ke Malaysia, ini pasti akan menjadi rumah impian kami.
read more »

Touch ‘n Go Card

Touch 'n Go Card with Bus Ticket
Tadi siang di KL Sentral akhirnya saya menyempatkan diri untuk membeli kartu Touch ‘n Go. Kartu magnetis yang dapat digunakan untuk pembayaran bus, LRT, Tol dan beberapa hal lainnya. Yah, tidak jauh bedalah dengan kartu Oyster di London dulu. Untuk kartunya saya dikenakan biaya senilai RM10 (kurang lebih Rp 30.000) dan kemudian diberi pulsa awal senilai RM9.5 sehingga uang yang harus saya keluarkan adalah RM20. Hmm.. ada perbedaan RM0.5 😀
Sebagai percobaan langsung saya gunakan di LRT sepulang dari Kedubes Indonesia. Saya “touch-in” di Ampang Park dan “touch-out” di KL Pasar Seni. Ternyata saya tetap dikenakan RM1.6 sesuai harga tiket normal… hmm kok gak ada diskon ya 😀
Pulangnya saya mampir ke Maybank dan mencoba isi ulang pulsa Touch ‘n Go di ATM Maybank. Saya isi RM100 sehingga total pulsa menjadi RM107.9. Saat saya periksa sisa saldo, ternyata saya dikenakan RM100.5. Oh.. jadi setiap kali isi ulang kita memang kena RM 0.5 euy. Kalau begini rugi dong kalo isi ulang dengan nilai yang kecil ya. Nah, dengan adanya kartu ini jadi saya sekarang gak perlu cari-cari uang kecil saat bayar bus atau LRT deh.
Psstt.. perasaan kemarin waktu di Indonesia di beberapa stasiun jabotabek saya lihat ada jalur untuk kartu elektronik mirip di Malaysia dan UK deh. Wah top banget deh kalau PT KIA benar-benar melaksanakan penggunaan kartu elektronik. Mudah-mudahan penumpang gelap dan penumpang yang bayar diatas makin berkurang sehingga PT KIA makin kaya dan makin memanjakan penumpangnya.

Malaysia Review

Menuju KLIA LCCT dari Cyberjaya

KLIA LCCT terletak kurang lebih 20km dari KLIA. Bandara LCCT yang merupakan bandara tempat mendarat-nya AirAsia, Tiger Airways dan beberapa penerbangan Low Cost lainnya memang agak sukar diakses dibandingkan KLIA. Beberapa waktu ini saya selalu mengandalkan Taksi untuk mencapai KLIA LCCT dari Cyberjaya. Namun ternyata ada beberapa alternatif lain euy.

Alternatif 1
Taksi. Ini jelas. Paling cepat. Tinggal duduk dan sampe deh. Kurang lebih 30 menit hingga 1 jam tergantung kondisi jalanan. Biayanya paling mahal, antara RM50-RM60

Alternatif 2
Gabungan Bis dan KLIA Express Rail Link (ERL). Dari Cyberjaya menggunakan bis RapidKL T429 ke West Transport Terminal di Putrajaya Central, biayanya sekitar RM1 dan waktu tempuh kurang dari 15 menit. Di Putrajaya Central kemudian ganti menggunakan ERL ke KLIA dengan biaya RM6.20 dan ditempuh dalam waktu 20 menit. Di KLIA kemudian naik Shuttle Bus Service KLIA – LCCT yang terletak di Platform 8, bus station at Ground Floor, Car Park C, Main Terminal Building (MTB) dan dioperasikan oleh Nadi KLIA. Biaya Shuttle Bus sekitar RM1.5 dengan waktu tempuh kurang lebih 25 menit. So total biaya yang dikeluarkan RM8.7 dan total waktu tempuh 55 menit tidak termasuk waktu tunggu.

Alternatif 3
Ini alternatif orang yang punya banyak waktu. Dari Cyberjaya naik bus RapidKL T429 ke Putrajaya Central. Kemudian berganti dengan KL Sentral ERL seharga RM9.5 atau naik bus RapidKL E1 ke KL Sentral seharga RM 5. Dari KL Sentral di Lower Ground naik SkyBus yang langsung menuju KLIA LCCT dengan biaya RM 9 dan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Sehingga total biaya yang dikeluarkan antara RM15 hingga RM19.5 dan total waktu tempuh bisa mencapai 3 jam dengan tidak menghitung waktu tunggu.

Review
Kalau terburu-buru jangan ragu untuk ambil Alternatif 1 karena ketinggalan pesawat bukanlah pilihan yang menarik. Tapi kalau punya waktu yang cukup, misalnya 2 jam, maka ambil alternatif 2. Sedangkan bila memang niat buang-buang waktu maka alternatif 3 adalah pilihan menarik.

Malaysia Personal

Pilihan Pemasangan Akses Internet di Malaysia

Pagi ini saya menghubungi TM (Telekom Malaysia) untuk mencoba mencari tahu proses memperoleh telepon rumah karena di rumah yang akan saya sewa nanti tidak ada teleponnya namun sudah ada jalurnya. Kenapa saya butuh jalur telepon? Karena itu satu-satunya cara agar saya bisa daftar ADSL dari TM. Ternyata TM dengan ramahnya mengatakan bahwa bila memang sudah ada jalur mereka bisa memproses dalam waktu 2-3 hari. Cukup bayar registrasi dan deposit awal serta biaya materai (stamp duty) yang cukup murah. Namun setelah saya sampaikan bahwa saya bukan orang lokal, petugas kemudian menambahkan bahwa saya harus memberikan deposit RM1000. Duh…
So cari alternatif lain deh yaitu via wireless broadband. Pilihan jatuh ke Maxis. Sebulan saya dikenakan biaya RM68 unlimited sudah termasuk modem 3G HSDPA. Dan lagi-lagi saya kena deposit RM300, namun kali ini lebih rendah daripada deposit sebelumnya. Namun saat saya baca baik-baik persyaratan dan regulasi-nya saya terbentur dengan kalimat ‘Maksimal download dalam satu bulan tidak melebihi 3GB’. Weleh… ini seh gak unlimited dong.
Ada pilihan apa lagi yah??

Malaysia Personal

Poliklinik di Cyberjaya

Resep dan Obat
Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri untuk mampir ke dokter di Poliklinik Cyberjaya yang bertempat di Street Mall. Dikatakan menyempatkan diri sebenarnya juga tidak, tapi lebih tepatnya menyengajakan diri karena waktu itu batuk dan pilek saya semakin parah.
Saat masuk ke ruang tunggu, bau rumah sakit/ruang prakter dokter segera menyergap. Ternyata gak jauh beda dengan di Indo. Saya lalu mendaftarkan diri dengan menggunakan paspor sebagai identitas diri. Data-data saya kemudian dicatat ke dalam komputer oleh penerima tamu.
Tidak lama kemduian saya dipanggil masuk. Dokternya seorang wanita keturunan India, yang paling jelas terlihat adalah pakaiannya yang sangat India sekali. Tapi kemudian perhatian saya lebih kearah sebuah layar lcd komputer yang ada di meja dokter tersebut. Jangan-jangan…
Setelah di tanya ini itu dan diperiksa ini itu, sang dokter kemudian menulis di atas layar lcd komputer. Waduh.. beneran seperti dugaan.. itu tablet pc. Lirik punya lirik, layar yang ditulisi oleh dokter tersebut mirip dengan Microsoft Journal di Tablet T1000 milik istriku dulu.
Setelah saya diusir dari ruang dokter, sang penerima tamu kemudian memanggil saya dan memberikan obat plus kuitansi senilai RM38. Tidak jauh berbeda dengan di Indo.
Hmmm.. berarti antara ruang dokter dengan ruang tunggu sudah online. Entah online benar atau hanya sharing.. who knows. Tapi boleh juga nih, poliklinik saja sudah komputerisasi bagaimana rumah sakitnya yah.
Dan jadi ingat dulu saat mengantar Audi ke dokter di Bogor Medical Center, saya juga sempat melihat adanya pc di meja dokter. Namun saat itu saya meragukan pc apakah para dokter menggunakan pc tersebut atau tidak. Dan ternyata saat itu memang tidak digunakan. Mungkin harus mencontoh poliklinik yang di cyberjaya.. yaitu menggunakan tablet pc sehingga para dokter tidak perlu menggunakan keyboard yang dipastikan lebih berkuman daripada sebuah pena.

Malaysia Personal Review

Shuttle Bus Cyberjaya, Sebuah Komentar

Shuttle Bus Cyberjaya adalah kendaraan utama bagi saya dan sebagian besar penghuni Cyberjaya yang belum memiliki kendaraan sendiri. Shuttle Bus gratis yang disediakan oleh pemerintahan Cyberjaya ini memang sangat berguna terutama karena disini tidak ada angkot maupun kendaraan umum lainnya. Alternatif kendaraan umum yang ada hanyalah Taxi. Namun karena gratis dan pengemudinya masih manusia jelaslah pasti banyak keluhan maupun komentar setelah sekian lama menggunakan fasilitas ini.

Rute Shuttle Bus
Shuttle Bus ini disediakan oleh Pemerintah Cyberjaya bekerjasama dengan RapidKL. Terbagi atas dua rute, yaitu Rute 1 dan Rute 2. Rute 1 lebih mengarah kepada mahasiswa Universitas Lim Kok Wing sedangkan Rute 2 mengarah kepada Pegawai atau Pekerja di perusahaan-perusahaan yang bermukim di Cyberjaya. Keduanya bermula dan berakhir di Cyberjaya Transport Terminal (CTT) / Street Mall. Keduanya juga melalui wilayah tempat tinggal yang paling ramai, Cyberia, tempat saya tinggal juga.

Jadwal
Rute 1 dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam. Untuk hari kerja (Senin-Jum’at) setiap 15 menit sekali. Sedangkan hari libur dan Sabtu/Minggu setiap 30 menit sekali.
Rute 2 dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 12 malam. Pada hari kerja (Senin-Jum’at) setiap 15 menit sekali pada jam sibuk; 20 menit sekali pada jam tidak sibuk; dan 1 jam sekali setelah lewat jam 9 malam. Sedangkan pada hari libur dan Sabtu/Minggu setiap 1 jam sekali.

Faktor Pengemudi
Walaupun jadwal dan rute sudah ditentukan, namun semuanya kembali kepada faktor pengemudi. Beberapa kali saya mendapatkan pengemudi yang potong arah tidak memenuhi aturan rute yang ditentukan. Berhubung halte tempat saya bekerja dilalui dua kali oleh Shuttle Bus Rute 2, kadangkala saya didamprat pengemudi karena mereka hendak ke arah CyberHeight dan bukan ke CTT/Street Mall; Namun lebih sering bus tidak mau berhenti bilamana saya stop. Kadangkala dampratan atau tidak mau berhenti itu saya pahami bila hari kerja, karena bisa saja bus berikutnya berarah ke CTT/Street Mall; namun bila bukan hari kerja sangat membuat saya kesal berhubung bus hanya ada 1 jam sekali.
Akhirnya saya hapal siapa pengemudi yang baik, dimana dia melalui semua rute yang ditentukan serta tidak komentar apapun. Pengemudi yang tidak memenuhi aturan rute bila bukan hari kerja. Pengemudi yang informatif. Serta pengemudi yang menyebalkan serta tukang damprat.
So.. bila terlihat pengemudinya adalah sopir yang `bermasalah` biasanya saya tidak mau menyetop daripada sakit hati 😀