Archive for the ‘Review’ Category
Thursday, August 21st, 2008
Acer Aspire 4530 adalah notebook generasi ke 8 saya selama hampir 10 tahun berkecimpung di dunia IT Professional. Notebook ini saya beli di Malaysia sini pada saat PC Fair Malaysia yang tidak manusiawi itu loh. Pertimbangan saat membelinya adalah harganya yang cukup murah yaitu di bawah RM2000 dengan fitur yang cukup mumpuni diantara notebook sekelas.
(more…)
Posted in Review, Tips | 22 Comments »
Friday, August 15th, 2008
Saya pertama kali pegang laptop di tahun 1993, ketika itu seorang rekan dari Travel Agent di Denpasar Bali meminta saya untuk memeriksa laptop beliau yang rusak. Saat itu komputer PC masih merupakan barang langka di Indonesia, apalagi sebuah laptop. Namun karena laptop tersebut rusak sejak saya pertama kali menerima, sehingga saya tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah notebook pertama saya.
So, inilah daftar notebook yang pernah saya gunakan atau miliki hingga saat ini:
- IBM ThinkPad 560X. Notebook ini saya gunakan tahun 1998-1999 saat kami diminta oleh seseorang untuk men-develop sistem Business Contingency Plan bagi Jakarta Stock Exchange (JSX). Notebook ini juga saya gunakan untuk presentasi skripsi saya pada tahun 1999. Setelah project BCP bagi JSX dibatalkan, notebook ini kemudian digunakan oleh M. Faizal untuk men-develop core dari sistem Kliring Berjangka Indonesia.
- IBM ThinkPad T20 seharga USD 3000 adalah notebook pertama yang saya gunakan secara penuh. Digunakan oleh saya untuk men-develop aplikasi BackOffice klien bagi sistem Kliring Berjangka Indonesia. Salah satu solusi aplikasi yang berbasis SOA. Notebook ini menyerah pada tahun 2000 setelah motherboardnya rusak.
- HP Omnibook 500 dipinjamkan ke saya dalam rangka penyelesaian proyek Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. (2002)
- Twinhead Efio 2400. Nomer seri lengkapnya saya lupa. Notebook ini dibelikan oleh CDL2000 sebagai pengganti dari Thinkpad T20. Saya gunakan untuk menyelesaikan proyek dari Kliring Berjangka Indonesia, Berlian Sistem Informasi dan beberapa proyek lainnya. Notebook ini menyerah satu tahun kemudian setelah adaptor-nya terbakar. (2003-2004)
- Toshiba Satellite A60 kemudian dipinjamkan untuk melanjutkan proyek GIS dengan MapGuide, Sistem Akuntansi Keuangan Daerah dan beberapa proyek lainnya. (2005)
- Acer Travelmate TM3012 adalah notebook pertama yang saya beli sendiri pada tahun 2006. Walaupun saya beli bekas namun kualitas dan performa-nya tidak mengecewakan. Build-nya yang kecil mungil bahkan sempat membuat para klien mencuri-curi pandang.
- HP Pavillion DV2100CTO kemudian ditukar Travelmate TM3012 saya oleh CDL2000. Notebook ini pernah saya bawa ke London dan akhirnya tewas di Malaysia.
- Acer Aspire 4530 dibeli di PC Fair Malaysia dengan pertimbangan budget notebook namun cukup powerfull untuk menangani pekerjaan saya.
Posted in Personal, Review, Social | 3 Comments »
Wednesday, April 16th, 2008

Meng-import barang elektronik ke Malaysia itu ternyata gampang-gampang susah. Gampang-nya adalah karena semua prosedur jelas, namun biaya dan waktu yang harus kita korbankan untuk mengurusnya itu yang kadangkala jadi pertanyaan.
Principal di Eropa mengirimkan beberapa mobile phones ke kantor di Malaysia untuk keperluan testing dan pengembangan produk dengan menggunakan Fedex Priority. Dalam 2 hari kiriman tersebut telah sampai di KLIA, namun ternyata ditahan oleh Customs dan untuk mengeluarkannya saya memerlukan sebuah dokumen “Import Permit” dari lembaga yang bernama Sirim.
(more…)
Posted in Malaysia, Review, Social | No Comments »
Tuesday, April 15th, 2008

Dari kantor memang saya diberi SIM card dari provider Maxis lengkap dengan fitur Internet Unlimited. Namun untuk urusan keluarga saya memutuskan untuk membeli kartu lain untuk saya dan istri. Melalui berbagai pertimbangan terutama perhitungan tarif IDD akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan DiGi.
DiGi dominan warna kuning. Iklan DiGi di media TV kadang membuat saya tersenyum lebar. DiGi memang mendengungkan jangkauan terluas sehingga bisa digunakan di manapun kecuali di dalam Gua, di luar angkasa atau di laut dalam 
Untuk masalah roaming, DiGi sepertinya membentuk kerjasama erat dengan Indosat sementara Maxis dengan Telkomsel.
Yang paling seru adalah siang ini saat saya hendak menonaktifkan fitur Voice Mail System (VMS). Saat menelepon ke DiGiHelpline, tiba-tiba saya disodori pilihan Bahasa Indonesia. Wah suprise sekali karena biasanya di Malaysia ini pilihan bahasa hanya tiga, yaitu Bahasa Melayu, Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Secara natural saya langsung memilih pilihan Bahasa Indonesia. Saat saya minta berbicara dengan Customer Support, saya pun disambut dengan orang yang berbahasa Indonesia yang fasih. Wah ini seh orang Indonesia asli nih, apalagi kemudian orang tersebut membenarkan dugaan saya. Salut buat DiGi karena secara tidak langsung mereka mengakui bahwa pengguna produknya yang berasal dari Indonesia sudah sedemikian banyaknya sehingga harus disediakan pelayanan khusus.
Notes:
Untuk menon-aktifkan VMS di DiGi ternyata bisa dilakukan via USSD, caranya:
- Ketik *128# dan tekan Call
- Pilih menu nomor 6
- Pilih menu nomor 4
- Pilih menu nomor 4
- Tunggu SMS konfirmasi bahwa VMS anda sudah di non-aktifkan
Posted in Malaysia, Review, Social, Tips | No Comments »
Monday, April 14th, 2008

Karena penasaran, akhirnya kemarin sore kami memesan Pizza Hut secara online. Awal pemesanan berakhir dengan disaster karena adanya gangguan saat link antara Maybank Online dan Pizza Hut Online. Setelah itu online order dengan permintaan delivery selalu ditolak karena saat dilakukan di rumah kami sedang hujan lebat… tampaknya webmaster Pizza Hut online selalu meng-update situasi dan kondisi.
Sekitar pukul 17.30 hujan pun berhenti dan permintaan delivery melalui order online pun kembali diperbolehkan. Pilih menu promosi, klak klik sedikit dan selesailah order kami pada . Waktu tunggu kedatangan 45 menit (tertulis di receipt sebagai 45 minit, masih menggunakan bahasa melayu :D) pun ditampilkan di receipt dari order online.

Ternyata kurang dari 30 menit pizza telah datang. Huhuhuy. Langsung diserbu deh. Untuk Pizza Super Supreme rasanya tidak jauh beda dengan di Indonesia. Namun untuk Royal Masala sepertinya ini berasa seperti masakan India. Next time kayanya gak bakal pesan yang Royal Masala lagi nih.
Posted in Malaysia, Personal, Review, Social | 1 Comment »
Friday, March 28th, 2008
KLIA LCCT terletak kurang lebih 20km dari KLIA. Bandara LCCT yang merupakan bandara tempat mendarat-nya AirAsia, Tiger Airways dan beberapa penerbangan Low Cost lainnya memang agak sukar diakses dibandingkan KLIA. Beberapa waktu ini saya selalu mengandalkan Taksi untuk mencapai KLIA LCCT dari Cyberjaya. Namun ternyata ada beberapa alternatif lain euy.
Alternatif 1
Taksi. Ini jelas. Paling cepat. Tinggal duduk dan sampe deh. Kurang lebih 30 menit hingga 1 jam tergantung kondisi jalanan. Biayanya paling mahal, antara RM50-RM60
Alternatif 2
Gabungan Bis dan KLIA Express Rail Link (ERL). Dari Cyberjaya menggunakan bis RapidKL T429 ke West Transport Terminal di Putrajaya Central, biayanya sekitar RM1 dan waktu tempuh kurang dari 15 menit. Di Putrajaya Central kemudian ganti menggunakan ERL ke KLIA dengan biaya RM6.20 dan ditempuh dalam waktu 20 menit. Di KLIA kemudian naik Shuttle Bus Service KLIA - LCCT yang terletak di Platform 8, bus station at Ground Floor, Car Park C, Main Terminal Building (MTB) dan dioperasikan oleh Nadi KLIA. Biaya Shuttle Bus sekitar RM1.5 dengan waktu tempuh kurang lebih 25 menit. So total biaya yang dikeluarkan RM8.7 dan total waktu tempuh 55 menit tidak termasuk waktu tunggu.
Alternatif 3
Ini alternatif orang yang punya banyak waktu. Dari Cyberjaya naik bus RapidKL T429 ke Putrajaya Central. Kemudian berganti dengan KL Sentral ERL seharga RM9.5 atau naik bus RapidKL E1 ke KL Sentral seharga RM 5. Dari KL Sentral di Lower Ground naik SkyBus yang langsung menuju KLIA LCCT dengan biaya RM 9 dan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Sehingga total biaya yang dikeluarkan antara RM15 hingga RM19.5 dan total waktu tempuh bisa mencapai 3 jam dengan tidak menghitung waktu tunggu.
Review
Kalau terburu-buru jangan ragu untuk ambil Alternatif 1 karena ketinggalan pesawat bukanlah pilihan yang menarik. Tapi kalau punya waktu yang cukup, misalnya 2 jam, maka ambil alternatif 2. Sedangkan bila memang niat buang-buang waktu maka alternatif 3 adalah pilihan menarik.
Posted in Malaysia, Review | No Comments »
Saturday, March 22nd, 2008
Shuttle Bus Cyberjaya adalah kendaraan utama bagi saya dan sebagian besar penghuni Cyberjaya yang belum memiliki kendaraan sendiri. Shuttle Bus gratis yang disediakan oleh pemerintahan Cyberjaya ini memang sangat berguna terutama karena disini tidak ada angkot maupun kendaraan umum lainnya. Alternatif kendaraan umum yang ada hanyalah Taxi. Namun karena gratis dan pengemudinya masih manusia jelaslah pasti banyak keluhan maupun komentar setelah sekian lama menggunakan fasilitas ini.
Rute Shuttle Bus
Shuttle Bus ini disediakan oleh Pemerintah Cyberjaya bekerjasama dengan RapidKL. Terbagi atas dua rute, yaitu Rute 1 dan Rute 2. Rute 1 lebih mengarah kepada mahasiswa Universitas Lim Kok Wing sedangkan Rute 2 mengarah kepada Pegawai atau Pekerja di perusahaan-perusahaan yang bermukim di Cyberjaya. Keduanya bermula dan berakhir di Cyberjaya Transport Terminal (CTT) / Street Mall. Keduanya juga melalui wilayah tempat tinggal yang paling ramai, Cyberia, tempat saya tinggal juga.
Jadwal
Rute 1 dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 9 malam. Untuk hari kerja (Senin-Jum’at) setiap 15 menit sekali. Sedangkan hari libur dan Sabtu/Minggu setiap 30 menit sekali.
Rute 2 dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 12 malam. Pada hari kerja (Senin-Jum’at) setiap 15 menit sekali pada jam sibuk; 20 menit sekali pada jam tidak sibuk; dan 1 jam sekali setelah lewat jam 9 malam. Sedangkan pada hari libur dan Sabtu/Minggu setiap 1 jam sekali.
Faktor Pengemudi
Walaupun jadwal dan rute sudah ditentukan, namun semuanya kembali kepada faktor pengemudi. Beberapa kali saya mendapatkan pengemudi yang potong arah tidak memenuhi aturan rute yang ditentukan. Berhubung halte tempat saya bekerja dilalui dua kali oleh Shuttle Bus Rute 2, kadangkala saya didamprat pengemudi karena mereka hendak ke arah CyberHeight dan bukan ke CTT/Street Mall; Namun lebih sering bus tidak mau berhenti bilamana saya stop. Kadangkala dampratan atau tidak mau berhenti itu saya pahami bila hari kerja, karena bisa saja bus berikutnya berarah ke CTT/Street Mall; namun bila bukan hari kerja sangat membuat saya kesal berhubung bus hanya ada 1 jam sekali.
Akhirnya saya hapal siapa pengemudi yang baik, dimana dia melalui semua rute yang ditentukan serta tidak komentar apapun. Pengemudi yang tidak memenuhi aturan rute bila bukan hari kerja. Pengemudi yang informatif. Serta pengemudi yang menyebalkan serta tukang damprat.
So.. bila terlihat pengemudinya adalah sopir yang `bermasalah` biasanya saya tidak mau menyetop daripada sakit hati 
Posted in Malaysia, Personal, Review | No Comments »
Monday, November 19th, 2007

Sudah lebih dari seminggu saya menggunakan si Biru Malam. Sejauh ini saya cukup puas dengan performa-nya. Mesin matic-nya membuat hidup berkendara di jalanan macet menjadi sangat nyaman. Namun karena memang pada dasarnya pengguna manual, jadi tangan ini gak mau jauh-jauh dari stik kopling 
(more…)
Posted in Indonesia, Personal, Review | 9 Comments »